BAB
I
PENDAHULUAN
I.1.
Latar Belakang
Pada zaman sekarang, sedikit sekali
masyarkat atau remaja yang tidak mengenal bahasa Indonesia secara benar.
Kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa gaul sebagai bahasa komunikasi.
Sebenarnya itu adalah kesalahan besar masyarkat kita. Masyarakat tidak bangga
dengan bahasa resminya. Mereka lebih bangga dengan bahasa yang telah mereka
rusak sendiri. Seharusnya kita sebagai warga negara Indonesia yang baik lebih
bangga dengan bahasa resmi kita, tidak dengan bahasa gaul yang telah kita
ciptakan sendiri tanpa menggunakan kaidah EYD yang berlaku. Masalah ini telah
menjadi masalah yang serius bagi kita. Dan sudah seharusnya kita sebagai warga
negara yang baik, mau mempelajari dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.
Dalam makalah ini telah penulis utarakan bahwa
pembahasan tentang kata ini merupakan ulangan pelajaran di SLTA. Pengulangan
ini diperlukan untuk memantapkan pemahaman mahasiswaa tentang pengertian kata.
Selain
membahas pengertian kata, makalah ini juga akan membahas tentang makna dan
bentuk-bentuk kata. Karena berdasakan pengamatan penulis masih banyak para
mahasiswa yang belum begitu tahu tentang makna kata yang sesungguhnya.
Adapun
rumusan masalah dari makalah ini yaitu:
I.2.
Rumusan masalah
1.
Apa pengertian kata ?
2.
Apa makna kata (sematik)?
3.
Apa pengertian diksi dan cara
penggunaan nya ?
4.
Apa saja Macam dan kegunaan
kamus?
BAB
II
PEMBAHASAN
II.A.
Pengertian
Kata adalah satuan bentuk terkecil (dari kaliamat) yang
dapat berdiri sendiri dan mempunhai makna. Kata-kata yang dibentuk dengan
menggabungkan huruf atau menggabungkan morfem, akan kita akui sebagai kata bila
bentukan itu mempunyai makna.
Dalam KBBI
(Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau
dituliskan yang merupakan perwujudan suatu perasaan dan pikiran yang dapat
dipakai dalam berbahasa. Dari segi bahasa kata diartikan sebagai kombinasi
morfem yang dianggapsebagai bagian kecil dari kalimat. Sedangkan morfem sendiri adalah satuan bentuk
terkecil yang dapat membedakan makna dan atau mempunyai makna.
Kata juga
dapat diartikan sebagai sederetan huruf yang diapit dua spasi dan mempunyai
arti. Kata merupakan satuan terkecil yang dapat dinyatakan dalam bentuk bebas.
Perhatikan
kata sepeda, ambil, dingin, kuliah.
Keempat kata yang diambil secara acak itu kita akui sebagai kata karena setiap
kata mempunyai makna. Kita akan meragukan, bahkan memastikan bahwa adepes, libma, ningid, hailuk bukan kata
bahasa Indonesia karena tidak mempunyai makna.
II.2.
Makna Kata (Sematik)
Makna kata
(Semantik) memiliki pengertian yang sangatlah beragam. Mansoer Pateda (2001:79)
mengatakan bahwa istilah makna merupakan kata-kata dan istilah yang
membingungkan. Makna tersebut selalu menyatu pada tuturan maupun kalimat.
A. Jenis Makna Kata
1.
Makna Leksikal adalah makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata lainnya
dalam sebuah struktur.
Contoh : rumah, makan
2.
Makna Gramatikal adalah makna batu yang timbul akibat terjadinya proses
gramatikal (pengimbuhan, pengulangan, pemajemukan).
Contoh : Berumah, makanan
3.
Makna Idiomatik : makna kata yang tidak mengandung makna leksikal dan
gramatikal tapi mengandung makna denotasi dan konotasi
Contoh dari idiom adalah bentuk membanting tulang dengan makna
’bekerja keras’, meja hijau dengan makna ’pengadilan’.
B.
Relasi Makna
Relasi
Makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu
dengan satuan bahasa yang lain. Macam-macam relasi makna :
1. Sinonim : Kesamaan makna.
Contoh
: benar = betul
2. Antonim : Kebalikan Makna (Lawan Kata)
Contoh :
hidup x mati
3. Polisemi : mempunyai makna lebih dari
satu
Contoh :
kata kepala : 1. kepala adalah bagian tubuh bagian atas
2.
kepala yang menyatakan pimpinan
4. Homonim : bentuk tulisan, cara baca sama,
tapi maknanya beda
Contoh :
Diah bisa1 terkena bisa2 ular itu.
Bisa 1 bermakna dapat
Bisa 2 bermakna racun
5. Homofon : mempunyai kesamaan bunyi, tapi
bentuk ejaannya dan makna yang berbeda.
Contoh :
Bang = sebutan orang laki – laki
Bank = tempat
penyimpanan dan pengkreditan uang
6. Homograf : memiliki ejaan yang sama, tetapi
ucapan dan makna beda
Contoh :
Apel : buah
Apel
: rapat, pertemuan
7. Hiponim : kata yang masih umum
Contoh :
buah apel
8. Hipernim :
kata yang khusus
Contoh :
buah apel merah
C.
Perubahan Makna
1.
Perluasan (generalisasi) : perubahan makna dari yang khusus menjadi yang lebih
umum.
Contoh :
Bapak = panggilan untuk orang laki-laki yang lebih tua
2.
Penyempitan (Spesalisasi) : perubahan makna dari yang umum menjadi yang lebih
khusus
Contoh :
Sarjana = lulusan perguruan tinggi
3.
Peninggian Makna (Ameliorasi) : perubahan makna menjadi makna yang leih tinggi
atau halus.
Contoh :
Putra : kedudukannya lebih tinggi dari
anak
4.
Penurunan makna (Peyorasi) : perubahan makna menjadi yang lebih rendah atau
kasar
Contoh :
Bini : panggilan yang lebih rendah dari istri
5.
Persamaan (Asosiasi) : perubahan makna akibat persamaan makna lama dengan makna
yang baru.
Contoh :
Bunga = gadis yang cantik
Amplop = uang sogok
6.
Pertukaran (Sinestesia) : perubahan makna karena pertukaran tanggapan dua indra
sekaligus
Contoh : Wajahnya manis sekali. Wajahnya : indra
pengelihatan Manis sekali : indra pengecap.
II.3.
Bentuk-Bentuk Kata (Morfologi)
1.
Kata asal atau kata dasar :
Adalah
kata yang belum pernah mengalami perubahan dalam bentuk apapun misalnya,
perubahan penambahan, pengulangan digabungkan ataupun dirubah.
Contoh : Buku, Rumah
Kata asal
yang mengalami morfologi sesuai dengan kebutuhan dan keadaan misalnya:
perbukuan, buku-buku dan lainnya.
Bentuk
kata dasar yang ditinjau dari jumlah suku katanya:
a.
Kata dasar bersuku satu contoh : Bom, Hal
b.
Kata dasar bersuku dua contoh : Ba-ik, Be-nar
c.
Kata dasar bersuku tiga contoh : Ba-ha-ya, Ca-ha-ya
d.
Kata dasar bersuku empat contoh : Pi-ra-mi-da
2.
Kata Jadian atau kata turunan : adalah kata yang sudah mengalami perubahan kata
berupa pengulangan, pengimbuhan, kata sisipan.
Contoh : Berumah, perumahan
Kata jadian ini dapat berupa :
(a). Kata Ulang
Akibat
perulangan kata dasar
Contoh :
rumah-rumah
(b). Kata Berimbuhan
Kata dasar
yang mendapat imbuhan.
Contoh :
menggambar, mendapat imbuhan meng- dari kata dasar gambar.
(c). Kata Majemuk
Gabungan
dua kata atau lebih yang membuat satu kesatuan arti kata majemuk, gabungan
kata tersebut membentuk arti kata baru.
Contoh :
Sapu tangan
Sapu adalah alat untuk membersihkan
lantai
Tangan adalah anggota tubuh untuk meraba
Sapu Tangan adalah kain yang digunakan tangan untuk
membersihkan
II.4.
Diksi (Pemilihan Kata Yang Tepat)
Diksi
dalam arti aslinya dan pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi
oleh penulis atau pembicara. Arti kedua “diksi” yang lebih umum digambarkan
dengan enunsiasi kata seni berbicara jelas sehingga setiap kata dapat didengar
dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti
kedua ini membicarakan pengucapan dan intonasi daripada pemilihan kata dan
gaya.
Pilihan
kata atau diksi pada dasarnya adalah upaya memilih kata tertentu yang dipakai
dalam kalimat, alinea, atau wacana . pemilihan kata dapat dilakukan apabila
tersedia sejumlah kata dengan makna yang hampir sama atau bermiripan.
Ketersediaan kata akan ada apabila seseorang menguasai pembendaharaan kata yang
benar-benar memadai. Dari pembendaharaan kata tersebut seseorang dapat memilih
satu kata yang paling tepat untuk mengungkapkan satu pengertian. Tanpa
menguasai ketersediaan kata yang cukup banyak tidak mungkin seseorang dapat
melakukan pemilihan kata atau seleksi kata.
Pemilihan
kata bukanlah sekadar kegiatan memilih kata dengan tepat dan benar, tapi juga
memilih kata yang cocok . cocok dalam dalam hal ini berarti sesuai dengan
konteks dimana kata itu harus berada, maknanya tidak bertentangan dengan nilai
rasa masyarakat pemakainnya dan keadaan. Untuk itu dalam pemilihan kata
diperluan analisis dan pertimbangan. Sebagai contoh, kata mati bersininonim
dengan mampus, meninggal, wafat, mangkat, tewas, gugur, berpulang, kembali
ke haribaan Tuhan, dan lain sebagainya. Akan tetapi kata-kata tersebut
tidak dapat digunakan bebas karena ada nilai makna dan rasa yang membedakannya.
Misalnnya, kita tidak akan mengatakan kelinci kesayangan ku wafat tadi
pagi. Sebaliknnya kitapun taakan mengatakan Ayah teman saya mati
tadi malam. Itulah yang disebut contoh pertimbangan dan analisis pemiliha
kata.
Selain itu
juga Diksi , digambarkan
dengan kata seni berbicara
jelas sehingga setiap kata dapat didengar
dan di pahami komplesksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti
selanjutnya ini membicarakan intonasi dari pada pemilihan kata atau gaya, atau
kemampuan membedakan secara
tepat nuansa –nuansa
makna dari gagasan yang
ingin disampaikan.
Dari
berbagai uraian diatas diambil beberapa kesimpulan. Pertama, kemampuan
seseorang memilih kata hanya akan dapat dilakukan apabila seseorang menguasai
kosakata atau pembendaharaan kata yang cukup luas. Kedua, diksi atau pemilihan
kata mengandung pengertian sebagai upaya atau kemampuan membedakan,
menempatkan, menggunakan secara tepat kata-kata yang memiliki nuansa-nuansa
makna bersinonim. Ketiga, pemilihan kata menyangkut kemampuan menempatkan kata
yang cocok untuk suatau situasi atau konteks tertentu.
1.
Syarat ketepatan pemilihan kata
(Diksi)
Diatas
sudah di jelaskan bahwa kemahiran memilih kata berkaitan erat dengan penguasaan
kosakata. Selain menguasai kosakata, makna kata, seseorang juga harus dapat
memahami perubahan makna agar dapat menjadi pemilih kata yang akurat, seseorang
juga harus menguasai sejumlah persyaratan. Menurut keraf dalam komposisi
bahasa indonesia(1993:133) ada enam persyaratan.
a.
Dapat membedakan makna denotasi
dan konotasi.
Contoh:
1)
bunga edelweis hanya tumbuh
ditempat yang tinggi.
2)
Jika bunga bank
tinggi, orang enggan mengambil kredit bank.
b.
Dapat membedakan kata-kata yang
hampir bersinonim.
Contoh:
1)
Siapa pembuat
makanan tradisional jogja yang dikeraton itu?
2)
Perpecahaan Timur Tengah ternyata
buatan tangan Amerika.
c.
Dapat membedakan kata-kata yang
hampir mirip dalam ejaannya.
Contoh:
Kordinasi-kolaborasi reaksi-resepsi
Formal-normal elektronis-ekonomis
Produksi-publikasi presidentil-prinsipil
Kapitalis-kapasitis pesimis-optimis
d.
Dapat memahami dengan tepat
kata-kata abstrak.
Contoh:
Kesenjangan, kesejahteraan, kesemarakan.
Kebajikan, kebijakan, kebijaksanaan.
e.
Dapat memakai kata penghubung
yang berpasangan secara tepat.
Contoh:
|
Pasangan yang salah
|
Pasangan yang benar
|
|
Baik .... ataupun
Tidak .. melaiknan
Bukan ... tetapi
Antara ... dengan
|
Baik .... maupun
Tidak ....tetapi
Bukan .... melainkan
Antara ...denagan
|
Contoh pemakaian kata penghubung yang salah
a)
Baik dosen ataupun
mahasiswa sama-sama menaati peraturan.
b)
Korban kecelakaan itu tidak
tewas melainkan hanya luka-luka.
c)
Bukan Ayah saya yang jatuh tetapi
Paman saya.
d)
Antara pemimpin dengan
bawahan harus saling menghormati.
Contoh pemakaian kata penghubung yang
benar.
a)
Baik dosen maupun
mahasiswa sama-sama menaati peraturan.
b)
Korban kecelakaan itu tidak
tewas tetapi hanya luka-luka.
c)
Bukan Ayah saya yang jatuh melainkan
Paman saya.
d)
Antara pemimpin dan
bawahan harus saling menghormati.
f.
Dapat membedakan kata-kata yang
umum dan kata-kata yang khusus
Kata melihat adalah kata umum yang merujuk pada
suatu hal mengetahui sesuatu melalui indera mata. Kata melihat sendiri tidak
hanya digunakan untuk menyatakan membuka mata dan menunjuk objek tersebut,
tetapi juga untuk mengetahui hal yang memang berkenaan denga objek tersebut.
Contoh:
Kata umum: melihat
Kata khusus: melotot, memandang, menatap, mengintip,
mengintai, mengawasi, menonton, meneropong, mengintai, melirik, memperhatikan,
mengerling, memandang, mengamati dan sebagainnya.
1.
Gaya bahasa, Idiom, dan Ungkapan Idiomatik
a.
Gaya bahasa
Gaya bahasa
atau majas cara pengukuran pengungkapan, menuturkan, memaparkan maksud. Ada
banyak cara yang dapat dipakai dalam memaparkan maksud. Ada cara perlambang
(majas metafora, pesonifikasi), ada cara menekankan kehalusan (majas eufemisme,
litotes), dan masih banyak majas lain nya. Semua itu merupakan corak seni
berbahasa atau retorika utuk menimbulkan kesan tertentu bagi pendengar/pembaca.
Sebelum
menanmpilkan gaya, tertentu ada enam faktor
ang mempengaruhi tampilan bahasa sang komunikator dalam berkomunikasi
dengan mitrannya, yaitu:
a)
Cara dan media komunikasi: lisan atau tulis, langsung atau tidak
langsung, media cetak atau media elektronik.
b)
Bidang ilmu: filsafat, sastra, hukum, teknik, kedokteran, dan
lain-lain.
c)
Situasi: resmi, tidak resmi, setengah resmi.
d)
Ruang atau konteks: seminar, kuliah, ceramah, pidato.
e)
Khalayak: dibedakan berdasarkan umur (anak-anak, remaja, dewasa,
orang tua), jenis kelamin(laki-laki, perempuan), tingkat pendidikan dan status
sosial (rendah, menengah, tinggi)
f)
Tujuan: membangkitkan emosi, diplomasi, humor, informasi.
b.
Idiom
Idiom adalah
ungkapan bahasa yang artinya tidak secara langsung dapat dijabarkan dari
unsur-unsurnya. Menurut badudu(1989:47), dalam komposisi bahasa indonesia
, “...idiom adalah bahasa yang teradatkan..” oleh karena itu, setiap kata yang
membntuk suatu idiom berarti kapasitas didalamnya sudah termasuk atau ada makna
dan bentuk.
Meski dengan
prinsif ekonomi bahasa pun, salah satu unsurnya tidak boleh dihilangkan. Setiap
idiom sudah terpantri sedemikian rupa sehingga pemakai, bahasa mau tidak mau
harus tunduk pada aturan pemakainya. Sebagian besar idiom yang berupa kelompok
kata, misalnya gulung tikar, adu domba, muka tembok tidak boleh dipertukarkan
susunanya menjadi, tikar gulung, domba adu, tembok muka karena ketiga, kelompok
kata yang terakhir itu bukan idiom.
c.
Ungkapan Idiomatik
Di bawah
tingkatan idiom ada pasangan kata yang selalu muncul bersama sebagai frasa.
Kelompok kata bertemu dengan, dibacakan oleh,
misalnya, bukan idiom, tetapi berprilaku idiom. Pasangan kelompok kata semacam
ini pantas disebut ungkapan idiomatik
Contoh:
1)
Presiden bertemu para
menteri
2)
Berita selanjutnya dibacakan vina panduwinata
Contoh diatas tetap salah karena terasa
timpang, pembetulannya tidak lain adalah dengan menempatkan pasangan serasinya menjadi:
1)
Presiden bertemu dengan para menteri
2) Berita selanjutnya dibacakan oleh vina
panduwinata
Ada kalanya dalam penggunaan bahasa kita harus
memperhatikan frasa terentu, menggunakan kata yang berpasangan tepap karena
kedua kata itu memiliki ungkapan idiomatik. Beberapa contoh ungkapan idiomatik:
Berasal/berawal dari disebabkan oleh
Berkenaan dengan sesuai
dengan
Diperuntukan bagi bergantung pada
Contoh
pemakaian idiomatik salah dan pembenarannya ditempatkan di dalam kurung.
1) Kericuhan ini disebabkan karena demonstrasi (
disebabkan oleh)
2) Sesuai keputusan rapat... (sesuai dengan)
3) Sembako itu diperuntukan untuk rakyat kecil
(diperuntukan bagi)
d. Kesalahan pemakaian gabungan kata dan kata.
1a). Kesalahan pemakaian gabungan kata, yang
mana, dimana, daripada.
Gabungan
kata yang dimaksud adalah yang mana, dimana, dan daripada. Ketiga bentuk ini
sengaja di angkat karena pemakaiaannnya masih banyank yang salah.
II.5.
Macam dan Penggunaan Kamus
Penggunaan Kamus diantaranya
digunakan untuk :
1.
Memberikan
informasi mengenai makna kata, ejaan dan ucapan
2.
memberikan
informasi tentang penggunaan baca formal dan non-formal, ungkapan kata asing
yang ada kesamaan dengan bahasa Indonesia, kata ganti diri, singkatan dan
obsesi.
Macam Kamus :
1.
Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Kedu. 1993. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa. XXXIII, 1277 halaman; 26 cm
Sehubungan
dengan paparan sekilas tentang kamus umum, pengajar sudah dapat memberikan
gambaran tentang kosakata yang dicakup dalam kamus umum.
2.
Kamus
Pendidikan Pengajaran dan Umum. 1994. Oleh Salinan dan Sudarsono. Jakarta:
Rineka Cipta. VI. 283 halaman; 21 cm.
Kamus ini
telah memuat bidang pendidikan dan pengajaran. Berkaitan dengan itu, penulis
kamus ini telah menyajikan istilah-istilah yang berkaitan dengan pendidikan dan
pengajaran dan umum. Istilah-istilah yang tersaji itu disusun dengan system
alfabetis yang didefinisikan secarasingkat dan padat. Selain itu, istilah yang
tercangkup dalam kamus ini terdiri atas singkatan, akronim, dan kata yang
berkaitan dengan bahasa daerah, Indonesia, dan asing.
Kamus
pendidikan pengajaran dan umum kita pakai sebagai rujukan apaila siswa
menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan masalah pendidikan pengajaran dan
umum. Hal ini jangan sampai terjadi masalah pendidikan kita kaitkan dengan
masalah umum.
3.
Kamus
Antologi. 1985. Ariyono Suyono dan Aminuddin Siregar. Jakarta: Akademika
Presindo. VI, 454 halaman; 21 cm
Kamus yang
terdiri dari 3200 entri istilah ini cangkupannya cukup luas yakni, pertanian,
agama, sejarah dan politik. Beberapa tokoh antropologi juga termuat dalam buku
ini. Istilah yang digunakan meliputi berbagai bahasa dari beragama golongan
etnis. Di samping itu, tokoh-tokoh seperti tokoh antropologi, tokoh politik,
dan tokoh sejarahjuga terdapat dalam kamus ini. Kamus ini disusun berdasarkan
kata demi kata, sedangkan istilah yang berasal dari bahasa inggris atau bahasa
asing lainnya diletakkan dalam tanda kurung.
4.
Kamus
Istilah Sastra. 1990. Panuti Sudjiman. Jakarta: UI Prees. XIII. 94 halaman; 23
cm.
Istilah
yang terhimpun lebih kurang 1000 entri istilah dalam pengkajian prosa, puisi,
drama, teori, sejarah, dan kritik sastra. Dalam hal drama, istilah yang
berkenaan dengan pementasan tidak disertakan. Beberpa istilah Filologi tercakup
dalam kamus ini dengan pertimbangan bahwa filologi ditampilkan dengan sastra
lama. Sejumlah istilah linguistik yang relevan juga dimuat. Istilah yang
ditampilkan dalam urutan abjad. Jika sebuah istilah memiliki sinonim, batasan
atau uraian singkat mengikuti istilah yang memiliki sinonim, batasan menurut
abjad muncul lebih dahulu. Sinonim dan antonim jika dianggap perlu, dicatat
untuk memudahkan rujuk silang, misalnya, aliterasi, dan uraian.
5.
Kamus
Pariwisata dan Perhotelan. 1992. Kodhyat dan Ramini. Jakarta: Grasindo. XI, 145
halaman; 21 cm
Kamus ini memuat istilah dari
singkatan yang digunakan dalam dunia parawisata dan perhotelan berisi lebih
kurang 1.500 entri disusun dengan system alphabet dan tiap-tiap entri diberi
makna singkat dan padat serta apabila ada padanannya dalam bahasa Indonesia,
diletakkan dalam kurung. Kamus ini diperuntukkan bagi siswa SMP, siswa SMEA
jurusan perjalanan wisata, mahasiswa akademi perhotelan, dan orang yang
berkecimpung di dalam dunia pariwisatadan perhotelan. Di samping itu, terdapat
petunjuk pemakaian secara singkat., daftar pustaka, dan daftar tipe pesawat
terbang dan kode perusahaan penerbangan
6.
Kamus
Pertanian. 1993. Sjamsoe’oed Sadjad, Jakarta: Grasindo. XIII, 173 halaman; 21
cm
Aspek yang
dibicarakan dalam kamus ini meliputi budidaya tanaman, sosial-ekonomi-politik
pertanian, dan biologi-biokimia. Teknologi pertanian yang dikhususkan dalam
istilah yang berhubungan dengan pengelolaan tanaman. Kamus ini terdiri dari
1350 entri yang susunannya berdasarkan KBB, tetapi penyusunannya merupakan
perpaduan antara penulisan kamus dan glosari dengan penekanan lebih memberikan
suatu pengertian terhadap istilah. Istilah yang dikumpulkan dalam kamus ini
berupa nomina, verba, adjektiva, proses, serapan bahasa asing, karena sama
pembaca adalajh sekolah menengah atau perguruan tinggi, maka pengertian yang
diberikan bersifat sederhana dan umum.
7.
Kamus
istilah lingkungan. 1994. Imam Hendargo Ismoyo dan Rijaluzzaman. Penyunting.
Jakarta: Bina Reka Pariwara. 206 halaman; 21 cm
Kamus ini
merupakan rangkuman istilah yang bersumber dari berbagai peraturan
perundang-undangan., istilah baku dari beberapa disiplin ilmu pengetahuan serta
dari beberapa sumber lain. Batasan istilah baku yang termuat dalam lingkup
disiplin pengetahuan lingkungan tampaknya memang cenderung begitu luas,
mengingat pengetahuan lingkungan mencangkup disiplin seperi biologi, geografi,
ekonomi, dan kimia. Di samping itu, setiap tema didefinisikan secara jelas.
Kamus ini terdiri dari 1.132 entri dan ada beberapa entri yang disertai dengan
istilah asingnya. Ada beberapa pula yang istilah (di dalam tanda kurung) yang
menjelaskan bahwa kata tersebut dipakai dalam bidang umbuhan. Kamus ini sangat
bermanfaat bagi masyarakat khususnya kalangan mahasiswa, birokrat, pengusaha,
dan lembaga swadaya masyarakat dalam upaya meningkatkan pengetahuan dalam
bidang lingkungan hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar