Sabtu, 29 Maret 2014

Pemilihan kata

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Pada zaman sekarang, sedikit sekali masyarkat atau remaja yang tidak mengenal bahasa Indonesia secara benar. Kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa gaul sebagai bahasa komunikasi. Sebenarnya itu adalah kesalahan besar masyarkat kita. Masyarakat tidak bangga dengan bahasa resminya. Mereka lebih bangga dengan bahasa yang telah mereka rusak sendiri. Seharusnya kita sebagai warga negara Indonesia yang baik lebih bangga dengan bahasa resmi kita, tidak dengan bahasa gaul yang telah kita ciptakan sendiri tanpa menggunakan kaidah EYD yang berlaku. Masalah ini telah menjadi masalah yang serius bagi kita. Dan sudah seharusnya kita sebagai warga negara yang baik, mau mempelajari dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.
 Dalam makalah ini telah penulis utarakan bahwa pembahasan tentang kata ini merupakan ulangan pelajaran di SLTA. Pengulangan ini diperlukan untuk memantapkan pemahaman mahasiswaa tentang pengertian kata.
Selain membahas pengertian kata, makalah ini juga akan membahas tentang makna dan bentuk-bentuk kata. Karena berdasakan pengamatan penulis masih banyak para mahasiswa yang belum begitu tahu tentang makna kata yang sesungguhnya.
Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu:
I.2. Rumusan masalah
1.      Apa pengertian kata ?
2.      Apa makna kata (sematik)?
3.      Apa pengertian diksi dan cara penggunaan nya ?
4.      Apa saja Macam dan kegunaan kamus?
BAB II
PEMBAHASAN
II.A. Pengertian
Kata adalah satuan bentuk terkecil (dari kaliamat) yang dapat berdiri sendiri dan mempunhai makna. Kata-kata yang dibentuk dengan menggabungkan huruf atau menggabungkan morfem, akan kita akui sebagai kata bila bentukan itu mempunyai makna.
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan suatu perasaan dan pikiran yang dapat dipakai dalam berbahasa. Dari segi bahasa kata diartikan sebagai kombinasi morfem yang dianggapsebagai bagian kecil dari kalimat.  Sedangkan morfem sendiri adalah satuan bentuk terkecil yang dapat membedakan makna dan atau mempunyai makna.
Kata juga dapat diartikan sebagai sederetan huruf yang diapit dua spasi dan mempunyai arti. Kata merupakan satuan terkecil yang dapat dinyatakan dalam bentuk bebas.
Perhatikan kata sepeda, ambil, dingin, kuliah. Keempat kata yang diambil secara acak itu kita akui sebagai kata karena setiap kata mempunyai makna. Kita akan meragukan, bahkan memastikan bahwa adepes, libma, ningid, hailuk bukan kata bahasa Indonesia karena tidak mempunyai makna.
II.2. Makna Kata (Sematik)
Makna kata (Semantik) memiliki pengertian yang sangatlah beragam. Mansoer Pateda (2001:79) mengatakan bahwa istilah makna merupakan kata-kata dan istilah yang membingungkan. Makna tersebut selalu menyatu pada tuturan maupun kalimat.
      A.    Jenis Makna Kata
      1.      Makna Leksikal adalah makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata lainnya dalam sebuah struktur.
                  Contoh : rumah, makan
      2.      Makna Gramatikal adalah makna batu yang timbul akibat terjadinya proses gramatikal (pengimbuhan, pengulangan, pemajemukan).
                  Contoh : Berumah, makanan
3.  Makna Idiomatik : makna kata yang tidak mengandung makna leksikal dan gramatikal tapi mengandung makna denotasi dan konotasi
Contoh dari idiom adalah bentuk membanting tulang dengan makna ’bekerja keras’, meja hijau dengan makna ’pengadilan’.

      B.     Relasi Makna
Relasi Makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa yang lain. Macam-macam relasi makna : 
      1.   Sinonim : Kesamaan makna.  
Contoh : benar = betul 
      2.   Antonim : Kebalikan Makna (Lawan Kata)
Contoh : hidup x mati
      3.   Polisemi : mempunyai makna lebih dari satu 
Contoh : kata kepala : 1. kepala adalah bagian tubuh bagian atas
                                     2. kepala yang menyatakan pimpinan
      4.   Homonim : bentuk tulisan, cara baca sama, tapi maknanya beda
Contoh : Diah bisa1 terkena bisa2 ular itu. 
Bisa 1 bermakna dapat
Bisa 2 bermakna racun
      5.   Homofon : mempunyai kesamaan bunyi, tapi bentuk ejaannya dan makna yang berbeda.
Contoh : Bang = sebutan orang laki – laki
                                 Bank = tempat penyimpanan dan pengkreditan uang
      6.   Homograf : memiliki ejaan yang sama, tetapi ucapan dan makna beda
Contoh : Apel : buah
                           Apel  : rapat, pertemuan
      7.   Hiponim : kata yang masih umum
Contoh : buah apel
      8.   Hipernim :   kata yang khusus
Contoh : buah apel merah

      C.     Perubahan Makna
      1.      Perluasan (generalisasi) : perubahan makna dari yang khusus menjadi yang lebih umum.
Contoh : Bapak = panggilan untuk orang laki-laki yang lebih tua
      2.      Penyempitan (Spesalisasi) : perubahan makna dari yang umum menjadi yang lebih khusus
Contoh : Sarjana = lulusan perguruan tinggi
      3.      Peninggian Makna (Ameliorasi) : perubahan makna menjadi makna yang leih tinggi atau halus.
Contoh : Putra : kedudukannya  lebih tinggi dari anak 
      4.      Penurunan makna (Peyorasi) : perubahan makna menjadi yang lebih rendah atau kasar 
Contoh : Bini : panggilan yang lebih rendah dari istri
      5.      Persamaan (Asosiasi) : perubahan makna akibat persamaan makna lama dengan makna yang baru.
Contoh : Bunga = gadis yang cantik
                     Amplop = uang sogok
      6.      Pertukaran (Sinestesia) : perubahan makna karena pertukaran tanggapan dua indra sekaligus
Contoh : Wajahnya manis sekali. Wajahnya : indra pengelihatan Manis sekali : indra pengecap.

II.3. Bentuk-Bentuk Kata (Morfologi)
      1.      Kata asal atau kata dasar :
Adalah kata yang belum pernah mengalami perubahan dalam bentuk apapun misalnya, perubahan penambahan, pengulangan digabungkan ataupun dirubah.
Contoh : Buku, Rumah
Kata asal yang mengalami morfologi sesuai dengan kebutuhan dan keadaan misalnya: perbukuan, buku-buku dan lainnya.
Bentuk kata dasar yang ditinjau dari jumlah suku katanya:  
         a.       Kata dasar bersuku satu contoh : Bom, Hal
         b.      Kata dasar bersuku dua contoh : Ba-ik, Be-nar
         c.       Kata dasar bersuku tiga contoh : Ba-ha-ya, Ca-ha-ya
         d.      Kata dasar bersuku empat contoh : Pi-ra-mi-da
      2.      Kata Jadian atau kata turunan : adalah kata yang sudah mengalami perubahan kata berupa pengulangan, pengimbuhan, kata sisipan. 
Contoh : Berumah, perumahan
Kata jadian ini dapat berupa :
(a). Kata Ulang
Akibat perulangan kata dasar
Contoh : rumah-rumah           
(b). Kata Berimbuhan
Kata dasar yang mendapat imbuhan.
Contoh : menggambar, mendapat imbuhan meng- dari kata dasar gambar.
(c). Kata Majemuk
Gabungan dua kata atau lebih yang membuat satu kesatuan arti kata majemuk, gabungan kata  tersebut membentuk arti kata baru.
Contoh : Sapu tangan
Sapu adalah alat untuk membersihkan lantai
Tangan adalah anggota tubuh untuk meraba
Sapu Tangan adalah kain yang digunakan tangan untuk membersihkan
II.4. Diksi (Pemilihan Kata Yang Tepat)
Diksi dalam arti aslinya dan pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. Arti kedua “diksi” yang lebih umum digambarkan dengan enunsiasi kata seni berbicara jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini membicarakan pengucapan dan intonasi daripada pemilihan kata dan gaya.
Pilihan kata atau diksi pada dasarnya adalah upaya memilih kata tertentu yang dipakai dalam kalimat, alinea, atau wacana . pemilihan kata dapat dilakukan apabila tersedia sejumlah kata dengan makna yang hampir sama atau bermiripan. Ketersediaan kata akan ada apabila seseorang menguasai pembendaharaan kata yang benar-benar memadai. Dari pembendaharaan kata tersebut seseorang dapat memilih satu kata yang paling tepat untuk mengungkapkan satu pengertian. Tanpa menguasai ketersediaan kata yang cukup banyak tidak mungkin seseorang dapat melakukan pemilihan kata atau seleksi kata.
Pemilihan kata bukanlah sekadar kegiatan memilih kata dengan tepat dan benar, tapi juga memilih kata yang cocok . cocok dalam dalam hal ini berarti sesuai dengan konteks dimana kata itu harus berada, maknanya tidak bertentangan dengan nilai rasa masyarakat pemakainnya dan keadaan. Untuk itu dalam pemilihan kata diperluan analisis dan pertimbangan. Sebagai contoh, kata mati bersininonim dengan mampus, meninggal, wafat, mangkat, tewas, gugur, berpulang, kembali ke haribaan Tuhan, dan lain sebagainya. Akan tetapi kata-kata tersebut tidak dapat digunakan bebas karena ada nilai makna dan rasa yang membedakannya. Misalnnya, kita tidak akan mengatakan kelinci kesayangan ku wafat tadi pagi. Sebaliknnya kitapun taakan mengatakan Ayah teman saya mati tadi malam. Itulah yang disebut contoh pertimbangan dan analisis pemiliha kata.
Selain itu juga Diksi , digambarkan dengan kata seni berbicara jelas sehingga setiap kata dapat didengar  dan di pahami komplesksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti selanjutnya ini membicarakan intonasi dari pada pemilihan kata atau gaya, atau kemampuan membedakan secara tepat nuansa –nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan.
Dari berbagai uraian diatas diambil beberapa kesimpulan. Pertama, kemampuan seseorang memilih kata hanya akan dapat dilakukan apabila seseorang menguasai kosakata atau pembendaharaan kata yang cukup luas. Kedua, diksi atau pemilihan kata mengandung pengertian sebagai upaya atau kemampuan membedakan, menempatkan, menggunakan secara tepat kata-kata yang memiliki nuansa-nuansa makna bersinonim. Ketiga, pemilihan kata menyangkut kemampuan menempatkan kata yang cocok untuk suatau situasi atau konteks tertentu.
1.      Syarat ketepatan pemilihan kata (Diksi)
Diatas sudah di jelaskan bahwa kemahiran memilih kata berkaitan erat dengan penguasaan kosakata. Selain menguasai kosakata, makna kata, seseorang juga harus dapat memahami perubahan makna agar dapat menjadi pemilih kata yang akurat, seseorang juga harus menguasai sejumlah persyaratan. Menurut keraf dalam komposisi bahasa indonesia(1993:133) ada enam persyaratan.
a.       Dapat membedakan makna denotasi dan konotasi.
Contoh:
1)      bunga edelweis hanya tumbuh ditempat yang tinggi.
2)      Jika bunga bank tinggi, orang enggan mengambil kredit bank.
b.      Dapat membedakan kata-kata yang hampir bersinonim.
Contoh:
1)      Siapa pembuat makanan tradisional jogja yang dikeraton itu?
2)      Perpecahaan Timur Tengah ternyata buatan tangan Amerika.
c.       Dapat membedakan kata-kata yang hampir mirip dalam ejaannya.
Contoh:
Kordinasi-kolaborasi                                             reaksi-resepsi
Formal-normal                                                       elektronis-ekonomis
Produksi-publikasi                                                 presidentil-prinsipil
Kapitalis-kapasitis                                                  pesimis-optimis
d.      Dapat memahami dengan tepat kata-kata abstrak.
Contoh:
Kesenjangan, kesejahteraan, kesemarakan.
Kebajikan, kebijakan, kebijaksanaan.
e.       Dapat memakai kata penghubung yang berpasangan secara tepat.
Contoh:

Pasangan yang salah
Pasangan yang benar
Baik .... ataupun
Tidak .. melaiknan
Bukan ... tetapi
Antara ... dengan
Baik .... maupun
Tidak ....tetapi
Bukan .... melainkan
Antara ...denagan

Contoh pemakaian kata penghubung yang salah
a)      Baik dosen ataupun mahasiswa sama-sama menaati peraturan.
b)      Korban kecelakaan itu tidak tewas melainkan hanya luka-luka.
c)      Bukan Ayah saya yang jatuh tetapi Paman saya.
d)      Antara pemimpin dengan bawahan harus saling menghormati.

     Contoh pemakaian kata penghubung yang benar.
a)      Baik dosen maupun mahasiswa sama-sama menaati peraturan.
b)      Korban kecelakaan itu tidak tewas tetapi hanya luka-luka.
c)      Bukan Ayah saya yang jatuh melainkan Paman saya.
d)      Antara pemimpin dan bawahan harus saling menghormati.

f.       Dapat membedakan kata-kata yang umum dan kata-kata yang khusus
Kata melihat adalah kata umum yang merujuk pada suatu hal mengetahui sesuatu melalui indera mata. Kata melihat sendiri tidak hanya digunakan untuk menyatakan membuka mata dan menunjuk objek tersebut, tetapi juga untuk mengetahui hal yang memang berkenaan denga objek tersebut.
Contoh:
Kata umum: melihat
Kata  khusus:  melotot, memandang, menatap, mengintip, mengintai, mengawasi, menonton, meneropong, mengintai, melirik, memperhatikan, mengerling, memandang, mengamati dan sebagainnya.

1.      Gaya bahasa, Idiom, dan Ungkapan Idiomatik
a.       Gaya bahasa
Gaya bahasa atau majas cara pengukuran pengungkapan, menuturkan, memaparkan maksud. Ada banyak cara yang dapat dipakai dalam memaparkan maksud. Ada cara perlambang (majas metafora, pesonifikasi), ada cara menekankan kehalusan (majas eufemisme, litotes), dan masih banyak majas lain nya. Semua itu merupakan corak seni berbahasa atau retorika utuk menimbulkan kesan tertentu bagi pendengar/pembaca.
Sebelum menanmpilkan gaya, tertentu ada enam faktor  ang mempengaruhi tampilan bahasa sang komunikator dalam berkomunikasi dengan mitrannya, yaitu:
a)      Cara dan media komunikasi: lisan atau tulis, langsung atau tidak langsung, media cetak atau media elektronik.
b)      Bidang ilmu: filsafat, sastra, hukum, teknik, kedokteran, dan lain-lain.
c)      Situasi: resmi, tidak resmi, setengah resmi.
d)     Ruang atau konteks: seminar, kuliah, ceramah, pidato.
e)      Khalayak: dibedakan berdasarkan umur (anak-anak, remaja, dewasa, orang tua), jenis kelamin(laki-laki, perempuan), tingkat pendidikan dan status sosial (rendah, menengah, tinggi)
f)       Tujuan: membangkitkan emosi, diplomasi, humor, informasi.

b.      Idiom
Idiom adalah ungkapan bahasa yang artinya tidak secara langsung dapat dijabarkan dari unsur-unsurnya. Menurut badudu(1989:47), dalam komposisi bahasa indonesia , “...idiom adalah bahasa yang teradatkan..” oleh karena itu, setiap kata yang membntuk suatu idiom berarti kapasitas didalamnya sudah termasuk atau ada makna dan bentuk.
Meski dengan prinsif ekonomi bahasa pun, salah satu unsurnya tidak boleh dihilangkan. Setiap idiom sudah terpantri sedemikian rupa sehingga pemakai, bahasa mau tidak mau harus tunduk pada aturan pemakainya. Sebagian besar idiom yang berupa kelompok kata, misalnya gulung tikar, adu domba, muka tembok tidak boleh dipertukarkan susunanya menjadi, tikar gulung, domba adu, tembok muka karena ketiga, kelompok kata yang terakhir itu bukan idiom.
c.       Ungkapan Idiomatik
Di bawah tingkatan idiom ada pasangan kata yang selalu muncul bersama sebagai frasa. Kelompok kata bertemu dengan, dibacakan oleh, misalnya, bukan idiom, tetapi berprilaku idiom. Pasangan kelompok kata semacam ini pantas disebut ungkapan idiomatik
 Contoh:
1)      Presiden bertemu  para menteri
2)      Berita selanjutnya dibacakan vina panduwinata
Contoh diatas tetap salah karena terasa timpang, pembetulannya tidak lain adalah dengan menempatkan pasangan serasinya menjadi:
1)      Presiden bertemu dengan para menteri
2)      Berita selanjutnya dibacakan oleh vina panduwinata
Ada kalanya dalam penggunaan bahasa kita harus memperhatikan frasa terentu, menggunakan kata yang berpasangan tepap karena kedua kata itu memiliki ungkapan idiomatik. Beberapa contoh ungkapan idiomatik:
Berasal/berawal dari                          disebabkan oleh
Berkenaan dengan                             sesuai dengan
Diperuntukan bagi                             bergantung pada
                        Contoh pemakaian idiomatik salah dan pembenarannya ditempatkan di dalam kurung.
1)      Kericuhan ini disebabkan karena demonstrasi ( disebabkan oleh)
2)      Sesuai keputusan rapat... (sesuai dengan)
3)      Sembako itu diperuntukan untuk rakyat kecil (diperuntukan bagi)
d.    Kesalahan pemakaian gabungan kata dan kata.
1a). Kesalahan pemakaian gabungan kata, yang mana, dimana, daripada.
            Gabungan kata yang dimaksud adalah yang mana, dimana, dan daripada. Ketiga bentuk ini sengaja di angkat karena pemakaiaannnya masih banyank yang salah.






II.5. Macam dan Penggunaan Kamus
Penggunaan Kamus diantaranya digunakan untuk :
1.      Memberikan informasi mengenai makna kata, ejaan dan ucapan
2.      memberikan informasi tentang penggunaan baca formal dan non-formal, ungkapan kata asing yang ada kesamaan dengan bahasa Indonesia, kata ganti diri, singkatan dan obsesi.
Macam Kamus :
1.      Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Kedu. 1993. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. XXXIII, 1277 halaman; 26 cm
Sehubungan dengan paparan sekilas tentang kamus umum, pengajar sudah dapat memberikan gambaran tentang kosakata yang dicakup dalam kamus umum.
2.      Kamus Pendidikan Pengajaran dan Umum. 1994. Oleh Salinan dan Sudarsono. Jakarta: Rineka Cipta. VI. 283 halaman; 21 cm.
Kamus ini telah memuat bidang pendidikan dan pengajaran. Berkaitan dengan itu, penulis kamus ini telah menyajikan istilah-istilah yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran dan umum. Istilah-istilah yang tersaji itu disusun dengan system alfabetis yang didefinisikan secarasingkat dan padat. Selain itu, istilah yang tercangkup dalam kamus ini terdiri atas singkatan, akronim, dan kata yang berkaitan dengan bahasa daerah, Indonesia, dan asing.
Kamus pendidikan pengajaran dan umum kita pakai sebagai rujukan apaila siswa menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan masalah pendidikan pengajaran dan umum. Hal ini jangan sampai terjadi masalah pendidikan kita kaitkan dengan masalah umum.
3.      Kamus Antologi. 1985. Ariyono Suyono dan Aminuddin Siregar. Jakarta: Akademika Presindo. VI, 454 halaman; 21 cm
Kamus yang terdiri dari 3200 entri istilah ini cangkupannya cukup luas yakni, pertanian, agama, sejarah dan politik. Beberapa tokoh antropologi juga termuat dalam buku ini. Istilah yang digunakan meliputi berbagai bahasa dari beragama golongan etnis. Di samping itu, tokoh-tokoh seperti tokoh antropologi, tokoh politik, dan tokoh sejarahjuga terdapat dalam kamus ini. Kamus ini disusun berdasarkan kata demi kata, sedangkan istilah yang berasal dari bahasa inggris atau bahasa asing lainnya diletakkan dalam tanda kurung. 
4.      Kamus Istilah Sastra. 1990. Panuti Sudjiman. Jakarta: UI Prees. XIII. 94 halaman; 23 cm.
Istilah yang terhimpun lebih kurang 1000 entri istilah dalam pengkajian prosa, puisi, drama, teori, sejarah, dan kritik sastra. Dalam hal drama, istilah yang berkenaan dengan pementasan tidak disertakan. Beberpa istilah Filologi tercakup dalam kamus ini dengan pertimbangan bahwa filologi ditampilkan dengan sastra lama. Sejumlah istilah linguistik yang relevan juga dimuat. Istilah yang ditampilkan dalam urutan abjad. Jika sebuah istilah memiliki sinonim, batasan atau uraian singkat mengikuti istilah yang memiliki sinonim, batasan menurut abjad muncul lebih dahulu. Sinonim dan antonim jika dianggap perlu, dicatat untuk memudahkan rujuk silang, misalnya, aliterasi, dan uraian.  
5.      Kamus Pariwisata dan Perhotelan. 1992. Kodhyat dan Ramini. Jakarta: Grasindo. XI, 145 halaman; 21 cm
Kamus ini memuat istilah dari singkatan yang digunakan dalam dunia parawisata dan perhotelan berisi lebih kurang 1.500 entri disusun dengan system alphabet dan tiap-tiap entri diberi makna singkat dan padat serta apabila ada padanannya dalam bahasa Indonesia, diletakkan dalam kurung. Kamus ini diperuntukkan bagi siswa SMP, siswa SMEA jurusan perjalanan wisata, mahasiswa akademi perhotelan, dan orang yang berkecimpung di dalam dunia pariwisatadan perhotelan. Di samping itu, terdapat petunjuk pemakaian secara singkat., daftar pustaka, dan daftar tipe pesawat terbang dan kode perusahaan penerbangan   
6.      Kamus Pertanian. 1993. Sjamsoe’oed Sadjad, Jakarta: Grasindo. XIII, 173 halaman; 21 cm
Aspek yang dibicarakan dalam kamus ini meliputi budidaya tanaman, sosial-ekonomi-politik pertanian, dan biologi-biokimia. Teknologi pertanian yang dikhususkan dalam istilah yang berhubungan dengan pengelolaan tanaman. Kamus ini terdiri dari 1350 entri yang susunannya berdasarkan KBB, tetapi penyusunannya merupakan perpaduan antara penulisan kamus dan glosari dengan penekanan lebih memberikan suatu pengertian terhadap istilah. Istilah yang dikumpulkan dalam kamus ini berupa nomina, verba, adjektiva, proses, serapan bahasa asing, karena sama pembaca adalajh sekolah menengah atau perguruan tinggi, maka pengertian yang diberikan bersifat sederhana dan umum. 
7.      Kamus istilah lingkungan. 1994. Imam Hendargo Ismoyo dan Rijaluzzaman. Penyunting. Jakarta: Bina Reka Pariwara. 206 halaman; 21 cm

Kamus ini merupakan rangkuman istilah yang bersumber dari berbagai peraturan perundang-undangan., istilah baku dari beberapa disiplin ilmu pengetahuan serta dari beberapa sumber lain. Batasan istilah baku yang termuat dalam lingkup disiplin pengetahuan lingkungan tampaknya memang cenderung begitu luas, mengingat pengetahuan lingkungan mencangkup disiplin seperi biologi, geografi, ekonomi, dan kimia. Di samping itu, setiap tema didefinisikan secara jelas. Kamus ini terdiri dari 1.132 entri dan ada beberapa entri yang disertai dengan istilah asingnya. Ada beberapa pula yang istilah (di dalam tanda kurung) yang menjelaskan bahwa kata tersebut dipakai dalam bidang umbuhan. Kamus ini sangat bermanfaat bagi masyarakat khususnya kalangan mahasiswa, birokrat, pengusaha, dan lembaga swadaya masyarakat dalam upaya meningkatkan pengetahuan dalam bidang lingkungan hidup. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar