BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berakhirnya kekuasaan khalifah Ali bin Abi Thalib
mengakibatkan lahirnya kekuasan yang berpola Dinasti atau kerajaan. Pola
kepemimpinan sebelumnya (khalifah Ali) yang masih menerapkan pola keteladanan
Nabi Muhammad, yaitu pemilihan khalifah dengan proses musyawarah akan terasa
berbeda ketika memasuki pola kepemimpinan dinasti-dinasti yang berkembang
sesudahnya.
Bentuk pemerintahan dinasti atau kerajaan yang
cenderung bersifat kekuasaan foedal dan turun temurun, hanya untuk mempertahankan
kekuasaan, adanya unsur otoriter, kekuasaan mutlak, kekerasan, diplomasi yang
dibumbui dengan tipu daya, dan hilangnya keteladanan Nabi untuk musyawarah
dalam menentukan pemimpin merupakan gambaran umum tentang kekuasaan dinasti
sesudah khulafaur rasyidin.
B. Rumusan Masalah
Ada pun masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut
:
1. Bagaimana
sejarah berdirinya Bani Abbasiyah ?
2. Seperti
apa masa kekuasaan Bani Abbasiyah ?
3. Apa
saja yang diperoleh pada masa kejayaan Bani Abbasiyah ?
4. Apa
faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran Bani Abbasiyah ?
5. Bagaimana
akhir masa kekuasaan Bani Abbasiyah ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui berdirinya Abasiyah.
2. Bagaimana kekuasaan pada masa Abasiyah.
3. Mengetahui kejayaan apa saja pada Bani Abasiyah.
4. Mengetahui faktor kemunduran Abasiyah.
BAB I
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Berdirinya Bani Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah
didirikan pada tahun 132 H/750 M oleh Abul Abbas Ash-shaffah, dan sekaligus
sebagai khalifah pertama. Kekuasaan Bani Abbas melewati rentang waktu yang
sangat panjang, yaitu lima abad dimulai dari tahun 132-656 H/750-1258 M.
Berdirinya pemerintahan ini dianggap sebagai kemenangan pemikiran yang pernah
dikumandangkan oleh bani Hasyim (alawiyun ) setelah meninggalnya Rasulullah
dengan mengatakan bahwa yang berhak berkuasa adalah keturunan Rasulullah dan
anak-anaknya.
Kelahiran bani
Abbasiyah erat kaitannya dengan gerakan oposisi yang di lancarkan oleh golongan
syi'ah terhadap pemerintahan Bani Umayyah. Golongan
Syi'ah selama pemerintahan Bani Umayyah merasa tertekan dan
tersingkir karena kebijakan-kebijakan yang di ambil pemerintah. Hal
ini bergejolak sejak pembunuhan terhadap Husein Bin Ali dan pengikutnya di
Karbela.
Gerakan oposisi
terhadap Bani Umayyah dikalangan orang syi'ah dipimpin oleh Muhammad Bin Ali,
ia telah di bai'ah oleh orang-orang syi'ah sebagai imam. Tujuan utama dari
perjuangan Muhammad Bin Ali untuk merebut kekuasaan dan jabatan khalifah dari
tangan Bani Umayyah, karena menurut keyakinan orang syi'ah keturunan Bani
Umayyah tidak berhak menjadi imam atau khalifah, yang berhak adalah keturunan
dari Ali Bin Abi Thalib, sedangkan bani umayyah bukan berasal dari keturunan
Ali Bin Abi Thalib. Pada awalnya golongan ini memakai nama Bani
Hasyim, belum menonjolkan nama Syi'ah atau Bani Abbas, tujuannya adalah untuk
mencari dukungnan masyarakat. Bani Hasyim yang tergabung dalam gerakan ini
adalah keturunan Ali Bin Abi Thalib dan Abbas Bin Abdul Muthalib. Keturunan ini
bekerjasama untuk menghancurkan Bani Umayyah.
Strategi yang digunakan
untuk menggulingkan Bani Umayyah ada dua tahap :
1. Gerakan secara rahasia
Propoganda Abbasiyah
dilaksakan dengan strategi yang cukup matang sebagai gerakan rahasia, akan
tetapi Imam Ibrahim pemimpin abbasiyah yang berkeinginan mendirikan kekuasaan
Abbasiyah, gerakannya diketahui oleh khalifah Umayyah terakhir, Marwan bin
Muhammad. Ibrahim akhirnya tertangkap oleh pasukan dinasti umayyah dan
dipenjarakan di Haran sebelum akhirnya di eksekusi. Ia mewasiatkan kepada
adiknya Abul Abbas untuk menggantikan kedudukannya ketika ia telah mengetahui
bahwa ia akan di eksekusi dan memerintahkan untuk pindah ke kuffah.
2. Tahap terang-terangan dan terbuka secara umum
Tahap ini dimulai
setelah terungkap surat rahasia Ibrahim bin Muhammad yang ditujukan kepada Abu
Musa Al-Khurasani Agar membunuh setiap orang yang berbahasa Arab di Khurasan.
Setelah khalifah Marwan bin Muhammad mengetahi isi surat rahasia tersebut ia
menangkap Ibrahim bin Muhammad dan membunuhnya. Setelah itu pimpinan gerakan
oposisi dipegang oleh Abul Abbas Abdullah bin Muhammad as-saffah, saudara
Ibrahim bin Muhammad. Abul Abbas sangat beruntung, karena pada masanya
pemerintahan Marwan bin Muhammad telah mulai lemah dan sebaliknya gerakan
oposisi semakin mendapat dukungan dari rakyat dan bertambah luas pengaruhnya.
Keadaan ini tambah mendorong semangat Abul Abbas untuk menggulingkan
khalifah Marwan bin Muhammad dari jabatannya. Untuk maksud tersebut Abul Abbas
mengutus pamannya Abdullah bin Ali untuk menumpas pasukan Marwan bin Muhammad.
Pertempuran terjadi antara pasukan yang dipimpin oleh khalifah Marwan bin
Muhammad dengan pasukan Abdullah bin Ali di tepi sungai Al-Zab Al-Shagirdi,
Iran. Marwan bin Muhammad terdesak dan melarikan diri ke Mosul, kemudian ke
palestina, Yordania dan terakhir di Mesir. Abdullah bin Ali terus mengejar
pasukan Marwan bin Muhammad sampai ke Mesir dan akhirnya terjadi pertempuran
disana. Marwan bin Muhammad pun akhirnya tewas karena pasukannya sudah sangat
lemah yaitu pada tanggal 27 Zulhijjah 132 H/750 M. Pada tahun 132 H/ 750 M Abul
Abbas Abdullah bin Muhammad diangkat dan di bai'ah menjadi khalifah , dalam
pidato pembiatan tersebut , ia antara lain mengatakan "saya berharap
semoga pemerintahan kami ( Bani Abbas ) akan mendatangkan kebaikan
dan kedamaian pada kalian. Wahai penduduk koufah, bukan intimidasi, kezaliman,
malapetaka dan sebagainya. Keberhasilan kami beserta ahlul Bait adalah
berkat pertolongan Allah SWT. Hai penduduk koufah, kalian adalah tumpuan kasih
sayang kami, kalian tidak pernah berubah dalam pandangan kami, walaupun
penguasa yang zalim ( Bani Umayyah ) telah menekan dan menganiaya kalian.
Kalian telah dipertemukan oleh Allah dengan Bani Abbas, maka jadilah kalian
orang-orang yang berbahagia dan yang paling kami muliakan..... ketahuilah, hai
penduduk koufah, saya adalah al-saffah". Setelah Abul
Abbas resmi menjadi khalifah ia tidak lagi mengambil Damaskus sebagai pusat
pemerintahan tetapi ia memilih Koufah sebagai pusat pemerintahannya, dengan
beberapa pertimbangan sebagai berikut:
a) Para pendukung Bani Umayyah masih banyak yang tinggal di Damaskus
b) Kota Koufah jauh dari Persia, walaupun orang-orang Persia merupakan tulang
punggung Bani Abbas dalam
menggulingkan Bani Umayyah
c) Kota Damaskus terlalu dekat dengan wilayah kerajaan Bizantium yang
merupakan ancaman bagi pemerintahannnya, akan tetapi pada masa pemerintahan
khalifah Al-Mansur (754-775 M ) dibangun kota Baghdad sebagai ibu kota Dinasti
Bani Abbas yang baru.
B. Masa
kekuasaan Bani Abbasiyah
Selama
dinasti Bani Abbasiyah berdiri pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda
sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan pola
pemerinthan itu, para sejarawan biasanya membagi kekuasaan Bani Abbasiyah pada
empat periode :
1. Masa
Abbasiyah I, yaitu semenjak lahirnya dinasti Abbasiyah tahun 132 H/750 M sampai
meninggalnya khalifah Al-Watsiq 232 H/847 M.
2. Masa
Abbasiayah II, yaitu mulai khalifah Al-Mutawakkil pada tahun 232 H/847 M sampai
berdirinya Daulah Buwaihiyah di Baghdad tahun 334 H/946 M.
3. Masa
Abbasiyah III, yaitu dari berdirinya Daulah Buwaihiyah tahun 334 H/946 M sampai
masuknya kaum Saljuk ke Baghdad Tahun 447 H/1055 M
4. Masa
Abbasiyah IV, yaitu masuknya kaum saljuk di Baghdad tahun 447 H/1055 M sampai
jatuhnya Baghdad ketangan bangsa Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan pada tahun
656 H/1258 M.
a) Masa
Abbasiyah I ( 132 H/750 M-232 H/847 M )
Masa
ini diawali sejak Abul Abbas menjadi khalifah dan berlangsung selama satu abad
hingga meninggalnya khalifah Al-Watsiq. Periode ini dianggap sebagai zaman
keemasan Bani Abbasiyah. Hal ini disebabkan karena keberhasilannya memperluas
wilayah kekuasaan.
Wilayah
kekuasaannya membentang dari laut Atlantik hingga sungai Indus dan dari laut
Kaspia hingga ke sungai Nil. Pada masa ini ada sepuluh orang khalifah yang
cukup berprestasi dalam penyebaran Islam mereka adalah khalifah Abul Abbas
ash-shaffah(750-754 M), Al-Mansyur ( 754-775 M), Al-Mahdi (775-785 M), Al-Hadi
(785-786 M), Harun Al-Rasyid (786-809 M), Al-Amin (809 M), Al-Ma'mun (813-833
M), Ibrahim (817 M), Al-Mu'tasim (833-842 M), dan Al-Wasiq (842-847 M).
b) Masa
Abbasiyah II ( 232 H/847 M-334 H/946 M)
Periode
ini diawali dengan meninggalnya khalifah Al-Wasiq dan berakhir ketika keluarga
Buwaihiyah bangkit memerintah. Sepeninggal Al-Wasiq, Al-Mutawakkil naik tahta
menjadi khalifah, masa ini ditandai dengan bangkitnya pengaruh Turki.
Setelah
Al-Mutawakkil meninggal dunia, para jendral yang berasal dari Turki berhasil
mengontrol pemerintahan. Ada empat khalifah yang dianggap hanya sebagai simbol
pemerintahan dari pada pemerintahan yang efektif, keempat pemerintahan itu
adalah Al-Muntasir (861-862 M ), Al-Musta'in (862-866 M), Al-Mu'taz (866-896
M), dan Al-Muhtadi (869-870 M). Masa pemerintahan ini dinamakan masa
disintegrasi, dan akhirnya menjalar keseluruh wilayah sehinngga banyak wilayah
yang memisahkan diri dari wilayah Bani Abbas dan menjadi wilayah merdeka
seperti Spanyol, Persia, dan Afrika Utara.
c) Masa
Abbasiyah III (334 H/946 M -447 H/1055 M)
Masa
ini ditandai dengan berdirinya Dinasti Buwaihiyah, yaitu Pada masa ini jatuhnya
Khalifah Al-Muktafi (946 M) sampai dengan khalifah Al-Qaim (1075 M). Kekuasaaan
Buwaihiyah sampai ke Iraq dan Persia barat, sementara itu Persia timur,
Transoxania, dan Afganistan yang semula dibawah kekuasaan Dinasti Samaniah
beralih kepada Dinasti Gaznawi. Kemudian sejak tahun 869 M, dinasti Fatimiyah
berdiri di Mesir.
Kekhalifahan
Baghdad jatuh sepenuhnya pada suku bangsa Turki. Untuk keselamatan, khalifah
meminta bantuan kepada Bani Buwaihiyah. Dinasti Buwaihiyah cukup kuat dan
berkuasa karena mereka masih menguasai Baghdad yang merupakan pusat dunia islam
dan menjadi kediaman Khalifah
Pada
akhir Abad kesepuluh, kedaulaulatan Bani Abbasiyah telah begitu lemah hingga
tidak memiliki kekuasaan diluar kota Baghdad. Kekuasaan Bani Abbasiyah berhasil
dipecah menjadi dinasti Buwaihiyah di Persia (932-1055 M), dinasti Samaniyah di
Khurasan (874-965 M), dinasti Hamdaniayah di Suriah (924-1003 M), dinasti
Umayyah di Spanyol (756-1030 M), dinasti Fatimiyah di Mesir (969-1171 M), dan
dinasti Gaznawi di Afganistan (962-1187 M)
d) Masa
Abbasiyah IV (447 H/1055 M -656 H/1258 M )
Masa
ini ditandai dengan ketika kaum Seljuk menguasai dan mengambil alih
pemerintahan Abbasiyah. Masa seljuk berakhir pada tahun 656 H/1258 M, yaitu
ketika tentara mongol menyerang serta menaklukkan Baghdad dan hampir seluruh
dunia Islam terutama bagian timur.
C. Masa
Kejayaan Peradaban Bani Abbasiyah
Pada
periode pertama pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasan, secara
politis para khalifah memang orang-orang yang kuat dan merupakan pusat
kekuasaan politik sekaligus Agama. Disisi lain kemakmuran masyarakat mencapai
tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi
perkembangan Filsafat dan ilmu pengetahan dalam Islam. Peradaban dan kebudayyan
Islam berkembang dan tumbuh mencapai kejayaan pada masa Bani Abbasiyah. Hal
tersebut dikarenakan pada masa ini Abbasiyah lebih menekankan pada perkembangan
peradaban dan kebudayaan Islam dari pada perluasan wilayah. Disinilah letak
perbedaan pokok dinasti Abbasiyah dengan dinasti Umayyah. Puncak kejayaan
dinasti Abbasiyah terjadi pada masa khalifah Harun Al- Rasyid (786-809 M) dan
anaknya Al-Makmun (813-833 M). Ketika Al-Rasyid memerintah, negara dalam
keadaan makmur, kekayaan melimpah, keamanan terjamin walaupun ada juga
pemberontakan dan luas wilayahnya mulai dari Afrika Utara sampai ke India.
Lembaga pendidikan pada masa Bani Abbasiyah mengalami perkembangan dan kemajuan
yang sangat pesat, hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab,
baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak Bani Umayyah, maupun
sebagai bahasa pengetahuan, selain itu juga ada dua hal yang tidak terlepas
dari kemajuan ilmu pengetahuan yaitu :
1. Terjadinya
asimilasi antara bahasa Arab dengan bahasa bangsa lain yang telah lebih dulu
mengalami kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa Bani Abbas,
bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. Asimilasi berlangsung secara
efektif dan bernilai guna. Bangsa-bagssa itu memberi saham tertentu bagi
perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia sangat kuat dalam
bidang ilmu pengetahuan. Disamping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam
perkembangan ilmu, filsafat, dan sastra. Pengaruh India terlihat dari bidang
kedokteran, ilmu matematika, dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani terlihat
dari terjemahan-terjemahan di berbagai bidang ilmu, terutama Filsafat.
2. Gerakan
penerjemahan berlangsung selama tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah
Al-Mansyur hingga Hasrun Al-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemah adalah
buku-buku dibidang ilmu Astronomi dan Mantiq. Fase kedua terjadi pada masa
khalifah Al-Makmun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemah adalah
bidang filsafat, dan kedokteran. Dan pada fase ketiga berlangsung setelah tahun
300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Selanjutnya bidang-biadang
ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.
Di zaman khalifah Harun al- Rasyid (786-809 H)
adalah zaman yang gemilang bagi Islam. Zaman ini kota baghdad mencapai puncak
kemegahannya yang belum pernah dicapai sebelumnya, Harun sangat cinta pada
sastrawan, ulama, Filosof yang datang dari segala penjuru ke Baghdad. Salah
satu pendukung utama tumbuh pesatnya ilmu pengetahuan tersebut adalah
didirikannya pabrik kertas di Baghdad. Orang Islam pada awalnya membawa kertas
dari Tiongkok, usaha pembuatan kertas erat kaitannya dengan perkembangan
Universitas Islam. Pabrik kertas ini memicu pesatnya penyalinan dan pembuatan
naskah-naskah, dimasa itu seluruh buku ditulis tangan. Ilmu cetak muncul pada
tahun 1450 M ditemukan oleh gubernur di Jerman. Dikota-kota besar islam muncul
toko-toko buku yang sekaligus juga berfungsi sebagai sarana pendidikan dan
pengajaran non-formal.
Popularitas Bani Abbasiyah ini juga ditandai dengan
kekayaan yang dimanfaatkan oleh khalifah Al-Rasyid untuk keperluan sosial
seperti Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan faramasi didirikan, dan
pada masannya telah ada sekitar 800 orang dokter, selain itu pemandian-pemandian
umum didirikan. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan,
dan kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya. Pada zaman
inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan
tak tertandingi.
Adapun
ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa Bani Abbasiayah adalah sebagai
berikut :
a) Ilmu
Kedokteran
Pada
mulanya Ilmu Kedokteran telah ada pada saat Bani Umayyah, ini terbukti dengan
adannya sekolah tinggi kedokteran Yundisapur dan Harran.. Dinasti Abbasiyah
telah banyak melahirkan dokter terkenal diantaranya sebagai berikut
Hunain
Ibnu Ishaq (804-874 M) terkenal segai dokter yang ahli dibidang mata dan
penerjema buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab.
1) Ar-Razi (809-1036 M) terkenal sebagai dokter yang ahli dibidang penyakit
cacar dan campak. Ia adalah kepala dokter rumah sakit di Baghdad. Buku
karangannya dbidang ilmu kedokteran adalah Al-Ahwi.
2) Ibnu Sina (980-1036 M), yang karyanya yang terkenal adalah Al-Qanun
Fi At-Tibb dan dijadikan sebagai buku pedoman bagi Universitas di
Eropa dan negara-negara Islam.
3) Ibnu Rusyd (520-595 M) terkenal sebagai dokter perintis dibidang
penelitian pembuluh darah dan penyakit cacar. Dll.
b) Ilmu tafsir
Pada masa ini muncul
dua alirang yaitu ilmu tafsir Al-matsur dan Tafsir Bir
ra'yi, aliran yang pertama lebih menekan pada ayat-ayat Al-Qur'an dan
Hadist dan pendapat tokoh-tokoh sahabat. Sedangkan
aliran tafsir yang kedua lebih menekan pada logika ( rasio ) dan Nash. Diantara
ulama tafsir yang terkenal pada masa ini adalah Ibnu Jarir al-Thabari (w.310 H)
dengan karangannya jami' al-bayan fi tafsir Al-Qur'an, Al-Baidhawi
dengan karangannya Ma'alim al-tanzil, al-Zakhsyari dengan karyanyaal-kassyaf,
Ar-Razi(865-925 M) dengan karangannya al-Tafsir al-Kabir, dan
lain-lainnya.
c) Ilmu
Hadist
Pada
masa pemerintahan khalifah Umar Bin Abdul Aziz (717-720 M) dari Bani Umayyah
sudah mulai usaha untuk mengumpulkan dan membukukan Hadist. Akan tetapi
perkembangan ilmu hadist yang paling menonjol pada amasa Bani Abbasiyah, sebab
pada masa inilah muncul ulama-ulama hadist yang belum ada tandingannya sampai
sekarang. Diantara yang terkenal ialah Imam
Bukhari (W.256
H) ia telah mampu mangumpulkan sebanyak 7257 Hadist dan setelah diteliti
terdapat 4000 hadist Shahih dari yang telah berhasil dikumpulkan oleh imam
Bukhari yang disusun dalam kitabnya Shahih Bukhari. Imam Muslim ( W. 251 H)
terkenal sebagai seorang ulama hadist dengan bukunya Shahih Muslim,
buku karangan imam Bukhari dan Muslim diatas lebih berpengaruh bagi umat Islam
dari pada buku-buku hadist lainnya, seperti Sunan Abu Daud oleh
Abu Daud ( W.257 H) sunan Al- Turmizi oleh imam
Al-Turmizi(W.287 H) Sunan Al-Nasa'i oleh Al-Nasa'i ( W.303 H)
dan sunan Ibnu-Majah oleh Imam Ibnu Majah ( W.275 H) keenam
buku hadist tersebut lebih dikenal dengan sebutan Al- Kutub Al-Sittah.
d) Ilmu
Kalam
Bukanlah
hal yang berlebihan jika dikatakan pada masa Bani Abbasaiyah merupakan
dasar-dasar Ilmu Fiqh. Ilmu ini disusun oleh ulama-ualama yang terkenal pada
masa itu dan masih besar pengaruhnya sampai sekarang, Diakalangan Ulama
Ahlu al-Sunnah wal jamaah. Muncul Imam Abu Hanifah(810-150 H) yang
lebih cendrung memakai akal (rasio) dan Ijtihad, Imam Malik Bin Anas (93-179 H)
yang lebih cendrung memakai hadist dan menjauhi sampai batas tertentu pemakaian
Rasio, Imam Syafi'i (150-204 H) yang berusaha mengkompromikan aliran Ahl
al-Ra'yi, dengan Ahl al-Hadist dalam Fiqh, dan Imam Ahmad
bin Hambal(164-241 H) yang merupakan tokoh aliran Fiqh yang keras, ketat dan
kurang luwes dari aliran-aliaran fiqh yang lainnya. Buku karang mereka masih
dapat kita temukan sampai sekarang yaitu al-muawatta, al-umm, al-risalah,
dan sebagainya.
e) Ilmu
Tashawuf
Dalam
bidang ilmu Tashawuf juga muncul ulama-ulama yang terkenal pada masa
pemerintahn Daulah Bani Abbasiyah. Imam Al-Ghazali sebagai seorang ulama sufi
pada masa Daulah Bani Abbasiyah meninggalkan karyanya yang masih beredar sampai
sekarang yaitu buku Ihya' Al-Din, yang terdiri dari lima
jilid. Al-Hallaj (858-922 M) menulis buku tentang Tashawuf yang
berjudul Al-Thawasshin, Al-Thusi
menulis buku al-lam'u fi al-Tashawuf, Al-Qusyairi (W. 465 H) dengan
bukunya al-risalat al-Qusyairiyat fi il'm al-Tashawuf.
f) Ilmu
Matematika
Terjemahan
dari bahasa asing ke bahasa Arab menghasilkan karya dibidang matematika.
Diantara ahli matematika islam yang terkenal adalah Al-Khawarizmi, adalah
seorang pengarang kitab Al-Jabar wal Muqabalah (ilmu hitung)
dan penemu angka Nol. Tokoh lainnya adalah Abu Al-Wafa Muhammad Bin Muhammad
Bin Ismail Bin Al-Abbas terkenal sebagi ahli ilmu matematika.
g) Ilmu
Farmasi
Diantara
ahli farmasi pada masa Bani Abbasiyah adalah Ibnu Baithar, karyanya yang
terkenal adalah Al-Mughni (berisi tentang obat-obatan), jami'
al-mufradat al-adawiyah (berisi tentang obat-obatan dan makanan
bergizi). Dan masih banyak lagi ilmu yang berkembang pada masa Bani Abbasiyah
berkuasa, hal ini terlihat bahwa saat Khalifah Al-Mustansir (1226-1242 M)
memerintah ia mendirikan Universitas Mustansiriah di Baghdad yang dapat
dibanggakan karena telah mampu melampaui Universitas di Eropa. Mereke mempunyai
Fakultas-fakultas yang sempurna, mahaguru digaji berdasarkan banyak mahasiswa
yang terdapat dalam Fakultasnya, setiap Mahasiswa dan Mahaguru mendapatkan satu
dinar emas setiap bulannya, dan rata-rata setiap Fakultas tidak ada yang kurang
dari 3000 Mahasiswa didalamnya. Setiap Mahasiswa boleh makan ke dapur umum
Mahasiswa dengan Cuma-Cuma, sebuah perpustakaan besar terdapat dalam
Universitas itu. Setiap mahasiswa yang berkeinginan menyalin buku-buku atau
ingin menyusun buku baru, ada sebuah kantor yang mengurus persediaan kertas,
pena dan tinta untuk keperluan itu. Disamping Universitas dibangun sebuah rumah
sakit untuk mahasiswa diperiksa kesehatannya, hal inilah yang menyebabakan
berbagai Universitas di Eropa mengambil contoh pada Universitas Mustansiriah
itu.
D. Faktor-Faktor
Yang Menyebabkan Kemunduran Bani Abbasiyah
Menurut
W. Montgomery, bahwa beberapa faktor penyebab kemunduran Bani Abbasiyah adalah
:
1. Luasnya
wilayah kekuasaan Bani Abbasiyah, sementara komunikasi pusat dengan daerah
sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya antara penguasa
dan pelaksana pemerintah sudah sangat rendah.
2. Dengan
profesionalisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka
sangat tinggi.
3. Keuangan
negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat
besar. Pada saat iu kekuatan militer menurun, khalifah tidak sanggup memaksa
pengiriman pajak ke Baghdad.
Sedangkan
menurut Dr. Badri Yatim, M. A diantara hal yang menyebabkan kemunduran Daulah
Bani Abbasiayah Adalah :
1. Persaingan
antar bangsa
Khalifah
Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia,
persekutuan dilatar belakangi oleh persamaan nasib pada saat pemerintahan Bani
Umayyah, keduanya sama-sama tertindas. Setelah dinasti Abbasiyah berdiri Bani
Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Pada masa ini persaingan antar
bangsa menjadi pemicu untuk saling berkuasa. Kecendrungan masing-masing bangsa
untuk berkusa telah dirasakan sejak awal pemerintahan Bani Abbas.
2. Kemerosotan
Ekonomi
Khalifah
Abbasiyah juga mengalami kemerosotan Ekonomi bersamaan dengan Kemunduran
dibidang Politik. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbasiyah merupakan
pemerintahan yang kaya, dan keuangan yang masuk lebih besar dari pada yang
keluar, sehingga Baitul Mal penuh dengan Harta. Setelah khalifah mengalami
periode kemunduran , pendapatan negara menurun, dengan demikian terjadi
kemerosotan ekonomi.
3. Konflik Keagamaan
Fanatisme keagamaan
berkaitan erat dengan masalah kebangsaan. Pada periode Abbasiyah , konflik keagamaan yang
muncul menjadi isu sentra sehingga terjadi perpecahan. Berbagai Aliran keagaam
seperti Mu'tazillah, Syi'ah, Ahlus sunnah, dan kelompok-kelompok lainnya
menjadikan pemerintahan Abbasiyah mengalami kesulitan untuk mempersatukan berbagai
faham keagamaan yang ada.
4. Perang
Salib
Perang salib merupakan sebab dari eksternal ummat
Islam. Pernag salib yang terjadi beberapa gelombang banyak menelan korban.
Konsentrasi dan perhatian Bani Abbasiyah terpecah belah untuk menghadapi
tentara salib sehingga memunculkan kelemahan-kelemahan.
5. Serangan Bangsa Mongol
Serangan tentara mongol
ke wilayah Islam menyebabkan kekuatan Islam menjadi lemah, apalagi serangan
Hulagu Khan dengan pasukan Mongol yang biadab menyebabkan kekuasaan Abbasiyah
menjadi lemah dan akhirnya menyerah pada kekuatan Mongol.
E. Masa
Akhir Kekuasaan Bani Abbasiyah
Akhir
dari kekuasaan Bani Abbasiyah adalah saat Baghdad dihancurkan oleh pasukan
Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan (656 H/1258 M). Ia adalah saudara dari
Kubilay Khan yang berkuasa di Cina sampai ke Asia Tenggara, dan saudaranya
Mongke Khan yang menugaskannya untuk mengembalikan wilayah-wilayah sebelah
barat dari Cina kepangkuannya. Baghdad dihancurkan dan diratakan dengan tanah.
Pada mulanya Hulagu Khan mengirim suatu tawaran kepada Khalifah Bani
Abbasiyah yang terakhir Al-Mu'tashim billah untuk bekerja sama menghancurkan
gerakan Assassin. Tawaran tersebut tidak dipenuhi oleh khalifah. Oleh karena
itu timbullah kemarahan dari pihak Hulagu Khan. Pada bulan september
1257 M, Khulagu Khan melakukan penjarahan terhadap daerah Khurasan, dan
mengadakan penyerangan didaerah itu. Khulagu Khan memberikan ultimatum kepada
khalifah untuk menyerah, namun khalifah tidak mau menyerah dan pada tanggal 17
Januari 1258 M tentara Mongol melakukan penyerangan.
Pada waktu penghancuran
kota Baghdad, khalifah dan keluarganya dibunuh disuatu daerah dekat Baghdad
sehingga berakhirlah Bani Abbasiyah. Penaklukan itu hanya membutuhkan beberapa
hari saja, tentara Mongol tidak hanya menghancurkan kota Baghdad tetapi mereka
juga menghancurkan peradaban ummat Islam yang berupa buku-buku yang terkumpul
di Baitul Hikmah hasil karya ummat Islam yang tak ternilai harganya. Buku-buku
itu dibakar dan dibuang ke sunagi Tigris sehingga berubah warna air sungai
tersebut, dari yang jernih menjadi hitam kelam karena lunturan air tinta dari
buku-buku tersebut.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Bani Abbasiyah
merupakan masa pemerintahan ummat Islam yang merupakan masa keemasan dan
kejayaan dari peradaban ummat Islam yang pernah ada. Pada masa Bani Abbasiyah
kekayaan negara melimpah ruah dan kesejahteraan rakyat sangat tinggi. Pusat
peradaban Islam mengalami kemajuan yang pesat sehingga pada masa
ini banyak muncul para tokoh ilmuan dari kalangan Ummat Islam, baik
itu ilmu pengatuhan yang bersifat umum seperti ilmu kedokteran yang telah
mencetak dokter seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan lain-lainnya, sehingga pada
masa ini telah ada lebih dari 800 dokter yang berada di kota Baghdad. Dalam
bidang matematika melahirkan ilmuan bernama Al-Khawarizmi yang merupakan penemu
angka Nol. Demikian juga dari biang ilmu agama, adanya perkembangan ilmu
tafsir, ilmu kalam, filsafat Islam, dan ilmu tashauf, yang juga melairkan
tokoh-tokoh dibidang ilmu masing-masing. Pada masa pemerintahan khalifah Harun
Al-rasyid kesejahteraan ummat sangat terjamin, karena pada masa inilah puncak
dari kejayaan Bani Abbasiyah, pembangunan dilakukan dimana-mana, baik
pembangunan rumah sakit, irigasi, dan pemandian-pemandian umum.
B. SARAN
Demikianlah isi dari
makalah kami, yang menurut kami telah
kami susun secara sistematis agar pembaca mudah untuk memahaminya. Berbicara
mengenai sejarah, maka sejarah merupakan ilmu yang tidak akan pernah ada
habisnya. Ingatlah, orang yang cerdas adalah orang yang belajar dari sejarah.
Sering kali kita lupa
bahwa “meskipun” berkisah mengenai masa lampau, tapi sejarah begitu penting
bagi perjalanan suatu bangsa. Melalui sejarah, kita belajar untuk menghargai
perjuangan para pendahulu kita, belajar menghargai tetes darah dan keringat
mereka untuk apa yang kita nikmati saat ini. Lewat sejarah kita juga belajar
dari pengalaman masa lalu, dan menjadikannya sebagai modal berharga untuk
melangkah di masa depan
Islam merupakan agama
yang besar dengan perjalanan sejarah yang panjang. maka dari itu, marilah kita
menggali lebih jauh lagi ilmu-ilmu yang berkaitan dengan sejarah Islamiah. Demi
menguatkan keteguhan dan rasa kebanggaan hati kita terhadap agama Islam yang
kita peluk ini.